Petunjukhidup.com- Sejak kuliah aku senang sekali membuat jurnal. Tidak sekedar menulis buku harian seperti Dear diary, tetapi menulis kata-kata motivasi, quotes di buku. Apalagi diberi stiker, diwarnai menjadi hal yang menyenangkan untuk melepas penat dan stres. Aku ingin menularkan ke anak aku untuk mulai menulis jurnal.

 

Awalnya, hanya sekedar ingin menularkan hobi bersama anak. Aku tidak menyangka sebuah jurnal kecil bisa membuat aku dan anak menghabiskan sore dengan cara yang begitu sederhana dan menyenangkan. Tidak perlu menjadwalkan jauh-jauh hari. Tidak juga membutuhkan tempat wisata yang mahal ataupun jauh.

 

Kebetulan juga, kami tinggal di Pulau Bintan, ada beberapa tempat yang bisa memandang laut. Meskipun, tidak bisa berenang. Apalagi, anak aku yang baru menginjak usia enam tahun sudah memiliki tempat kesukaan kalau diajak jalan ke tepi laut. Café sederhana yang bisa dibilang hidden gem, karena masuknya melalui lorong dan gang kecil. Kalau membawa sepeda motor harus hati-hati, salah sedikit bisa terjatuh ke laut.

 

Cuaca hari itu seperti biasa, cerah, sinar matahari masih sangat panas. Padahal dari rumah kami berangkat jam 4.30. Disepanjang perjalanan anak bercerita tanpa berhenti mengenai kegiatan di sekolah dasarnya, teman baru dan berbagai hal dia ceritakan. Kami pun sesekali bercanda gurau sebelum tiba ke café favorite Hans. Tidak ada salahnya menurut aku, aku ingin mengenalkan jurnal kepada anak aku yang masih kecil. Aku ingin dia belajar mengenal dirinya melalui jurnal. Mungkin, bagi teman yang lain, jurnal tidak penting. Namun keinginan ku, Hans akan menyukai jurnal dari dini hingga dewasa.

 


 

Pemilihan waktu juga aku sengaja di sore hari. Menurutku, suasana laut saat sore memiliki sesuatu yang berbeda. Angin terasa lebih lembut, langit perlahan berubah warna, dan suara ombak membuat suasana menjadi lebih tenang. Aku memasukkan dua buku jurnal ke dalam tas. Satu untukku, satu untuk anak. Beberapa pensil warna juga ikut dibawa. Tidak hanya itu, aku juga membawa stiker, kertas jurnal, lem, gunting dan alat stamps jurnal biar kelihatan menarik.

 

Mengajarkan Anak Bahwa Jurnal Bukan Sekadar Menulis

Sesampainya di tepi laut, kami mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Anak langsung membuka jurnalnya dan melihat halaman kosong di depannya. Aku bertanya sama anak aku, “Abang, hari ini apa yang paling membuat abang senang?”

Dia berpikir sebentar. Lalu, dia menjawab. “Hans senang punya  teman baru, bekal onigiri mama buat.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku menjelaskan ke Hans, kalau buat jurnal tidak perlu panjang-panjang. Apalagi anak aku baru belajar menulis dan membaca. Membuat jurnal bisa dengan menggambar atau menulis hal yang membuat senang ataupun sedih.

 


Aku memberitahu jurnal itu bisa ditulis atau digambar. Jurnal itu buku yang mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan. Tempat kita mengekspresikan diri kita. Hans mulai menggambar matahari. Di sebelahnya ada laut berwarna biru dan langit yang menurutnya harus diberi warna jingga. Bahkan, dia menempel beberapa stiker agar terlihat menarik.

 

Sementara anak sibuk dengan jurnalnya, aku pun juga mulai menulis beberapa kalimat. Tentang hari itu, tentang rasa syukur bisa memiliki waktu bersamanya, dan tentang betapa cepatnya anak-anak tumbuh. Tidak terasa, matahari mulai turun.

 

Ketika Mata Mulai Terasa SEpet, PErih, dan LElah

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kondisi mata. Karena terlalu menikmati percakapan dengan anak, membantu memilih warna pensil, sekaligus sesekali mengambil foto untuk mengabadikan momen. Setelah cukup lama berada di luar ruangan, aku mulai merasa mata kurang nyaman.

 

Awalnya terasa SEpet. Aku mengira hanya karena terkena angin laut. Tetapi beberapa saat kemudian, mata mulai terasa PErih dan semakin LElah. Aku sempat mengucek mata beberapa kali, bahkan mengedipkan mata dan memejamkan mata sebentar. Namun rasa tidak nyaman itu membuat aku mulai sulit berkonsentrasi. Rupanya itu gejala mata kering.

 


Padahal sunset sedang berada di momen terbaiknya. Langit berubah menjadi warna keemasan. Cahaya matahari memantul di permukaan laut. Hans beberapa kali memanggil, “Mama, lihat!” Sayangnya, aku tidak bisa menikmati pemandangan yang paling aku suka. Aku menyadari kalau dibiarkan terus begini, bagaimana nanti pulang dengan mengendarai sepeda motor. Persoalan mata ini, tidak bisa diabaikan.

 

Entah kenapa, mata aku terasa kering dan tidak nyaman. Apa dikarenakan sudah lama duduk membuat jurnal, ditambah angin laut yang bertiup lembut membuat kelembapan mata aku jadi berkurang. Bisa jadi berada di outdoor dengan angin yang bertiup kadang lembut, kadang kuat. Ditambah lagi kegiatan jurnal terkadang yang membuat kita harus fokus melihat tulisan, kamera, maupun layar ponsel bisa  membuat mata terasa semakin tidak nyaman.

 

Untung saja, aku ingat aku membawa obat tetes mata INSTO DRY EYES di dalam tas aku.

 

Mengapa Aku Membawa INSTO DRY EYES?

Sebelumnya aku memang sudah menyiapkan INSTO DRY EYES sebagai salah satu perlengkapan pribadi. Ukurannya praktis sehingga mudah dibawa ketika bepergian. Aku memilih Insto Dry Eyes dikarenakan insto ini bisa membantu meredakan gejala mata kering. Aku mengenal Insto Dry Eyes ini waktu liburan ke Bali, cuaca panas, berangin dan kadang debu membuat mata jadi perih dan mudah lelah. Seorang teman memberikan obat tetes matanya Insto Dry Eyes.

 


Sejak itu aku selalu membawa Insto Dry Eyes kemana pun aku pergi. Bagi aku obat tetes mata ini sama pentingnya dengan membawa air minum ketika pergi keluar rumah. Aku tidak mau berlama-lama merasakan mata perih dan sepet. Aku segera mencari Insto Dry Eyes dan menggunakannya. Setelah itu, aku memberikan waktu untuk mata beristirahat. Saya tidak langsung kembali menatap ponsel atau sibuk mengambil foto. Beberapa saat kemudian, mata terasa lebih nyaman. Aku bisa kembali membuat jurnal bersama anak. Apalagi dia yang masih sibuk menyelesaikan gambarnya.

 

Sunset yang Akhirnya Bisa Dinikmati Lagi

Ketika mata mulai terasa lebih nyaman, aku kembali duduk di samping anak. Dia menunjukkan jurnalnya. Gambar matahari sudah selesai. Ada laut, awan, dan dua orang yang katanya adalah saya dan dirinya. Serta stiker hewan laut dan burung yang dia lihat selama berada di café itu.

 



Gambar kas anak-anak kelas satu SD. Gambar yang sederhana, namun aku yakin sore ini akan menjadi salah satu kenangan yang ku simpan. Bukan karena tempatnya istimewa, favorite Hans. Bukan juga karena melakukan sesuatu yang luar biasa. Melainkan karena kami benar-benar hadir bersama. Kami menulis, menggambar, berbicara, tertawa, dan melihat matahari tenggelam bersama. Bahkan, makan bersama anak. Dan aku hampir kehilangan sebagian kecil dari momen itu hanya karena menganggap rasa tidak nyaman pada mata sebagai sesuatu yang bisa diabaikan.

 

Belajar Menjaga Mata Saat Beraktivitas di Luar

Kita selalu belajar dari kesalahan, jadi jangan heran jika aku  lebih memperhatikan kondisi mata saat sedang melakukan aktivitas di luar ruangan. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang aku coba lakukan.

 

Pertama, memberikan waktu istirahat untuk mata. Sesibuk apapun kita, baik itu saat sedang menulis maupun menggunakan gawai, terkadang kita memaksakan diri untuk terus melihat dalam waktu yang lama.

 



Kedua, mengurangi penggunaan ponsel ketika tidak diperlukan. Aku memang ingin mengabadikan momen, tetapi terlalu sibuk mengambil foto dan video justru bisa membuat saya kehilangan momen sebenarnya.

 

Ketiga, membiasakan diri berkedip dan mengalihkan pandangan sesekali dari tulisan atau layar ke objek yang jauh.

 

Keempat, memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan dengan membawa atau memesan air minum. 

 

Kelima, ketika berada di tempat terbuka, aku juga berusaha melindungi mata dari kondisi lingkungan seperti angin, debu, dan cahaya matahari yang terlalu menyilaukan. Dan yang tidak kalah penting, saya belajar untuk tidak mengabaikan ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, dan LElah.

 

Jika gejala mata kering muncul, aku akan memberikan waktu untuk mata beristirahat dan menggunakan INSTO DRY EYES dengan memberikan satu atau dua drop cairan ke mata kanan dan kiri untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman tersebut. Ingat #MataSePeLeJanganSepelein   

 

 

Mata SePeLe Jangan Disepelein

Hari itu akhirnya kami pulang ketika matahari sudah benar-benar menghilang di balik cakrawala. Langit pun mulai gelap, anak masih bercerita tentang gambar yang dibuatnya. Aku sendiri masih memikirkan satu hal yakni betapa cepatnya waktu berjalan.

 

Aku tahu, pada waktunya nanti anak aku sudah tidak mau lagi duduk bersama ku sambil menggambar. Pasti anak aku  memiliki kegiatannya sendiri, maupun bersama teman-temannya. Bisa dipastikan Hans bakalan memiliki kesibukannya sendiri. Karena itu lah, sebagai orang tua, aku  ingin menikmati waktu bersama Hans sebelum dia semakin sibuk.

 

Bagi aku, mengajarkan anak journaling bukan hanya mengajarinya menulis. Ini tentang mengajarkan anak untuk berhenti sejenak, mengenali perasaan, menghargai hal-hal sederhana, dan menyimpan cerita hidupnya.

 

Dan sore itu mengajarkan aku hal yang sama. Kita perlu belajar berhenti sejenak untuk menjaga diri sendiri. Karena mata yang nyaman membuat kita bisa melihat lebih banyak hal indah. Bisa melihat senyum anak, warna langit, cahaya matahari di permukaan laut, bahkan gambar sederhana yang dibuat dengan penuh rasa bangga oleh tangan kecilnya.

 

Jadi, ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, dan LElah, jangan dianggap sepele. Kenali gejalanya, berikan mata waktu untuk beristirahat, dan lakukan langkah yang tepat untuk membantu mengatasinya. Sebab Mata SePeLe Jangan Disepelein.

 

Dan bagi aku, sore di tepi laut Tanjung Pinang itu akhirnya bukan hanya tentang sunset. Itu adalah tentang sebuah jurnal kecil, percakapan sederhana, dan seorang anak yang tanpa sadar mengingatkan ibunya untuk menikmati hidup lebih perlahan. #InstoDryEyes #BebasMataKering

 


Salam dan Tetaplah Hidup


Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

Petunjuk Hidup membutuhkan komen berupa kritik dan saran agar lebih baik lagi dalam menjalani hidup. Ingat! Komentar di moderasi jadi tidak boleh spammy ya, rumahku indah dan rumahmu juga indah bukan? mongo dan terima kasih, dank jewel, danke, thanks, mercy